Tampilkan postingan dengan label almabhatsy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label almabhatsy. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Desember 2015

bahan ajar

A.    Pengertian Bahan Ajar
Bahan ajar adalah seperangkat materi/substansi pembelajaran (teaching material) yang disusun secara sistematis, menampilkan sosok utuh dari kompetensi yang akan dikuasai siswa dalam kegiatan pembelajaran. Pada dasarnya berisi tentang pengetahuan, nilai, sikap, tindakan, dan ketrampilan yang berisi pesan, informasi, dan ilustrasi berupa fakta, konsep, prinsip, dan proses yang terkait dengan pokok bahasa tertentu yang diarahkan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Lebih lanjut disebutkan bahwa bahan ajar berfungsi sebagai:
•Pedoman bagi pengajar yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam proses pembelajaran.
•Pedoman bagi siswa yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam proses pembelajaran.
•Alat evaluasi pencapaian/penguasaan hasil pembelajaran.
B.     Prinsip Prinsip Pemilihan Bahan Ajar
Dalam pemilihan bahan ajar dibagi menjadi 5 macam :
1.      Pemilihan Bahan Ajar Cetak
Secara umum, ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam memilih bahan ajar cetak yaitu kita harus memperhatikan informasi yang terkandung didalamnya, apakah sesuai dengan bahan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan kompetensi peserta didik atau tidak dan jangan sampai bahan ajar yang kita pilih terkandung materi yang kurang sesuai dengan materi yang seharusnya menjadi menu peserta didik dalam mencapai kompetensinya.
1)      Pemilihan Handout
a.    Substansi materi yang disajikan harus memiliki relevansi dengan kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta didik.
b.    Materi memberikan penjelasan secara lengkap.
c.    Padat pengetahuan
d.   Kebenaran materi dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
e.    Kalimat yang disajikan singkat dan jelas
f.     Dapat diambil dari buku atau hasil download dari internet.
2)      Pemilihan Buku Teks Pelajaran
a.    Substansi materi memiliki relevansi dengan kompetensi dasar atau materi pokok yang harus dikuasi oleh peserta didik.
b.    Materi dalam buku lengkap, paling tidak mampu memberikan penjelasan secara lengkap.
c.    Padat pengetahuan dan jelas secara keilmuan.
d.   Kebenaran materi dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
e.    Kalimat yang disajikan singkat dan jelas
f.     Penampilan fisik bukunya menarik atau menimbulkan motivasi untuk membaca.
2.      Pemilihan Bahan Ajar Non Cetak (Model/ Maket)
Adapun beberapa pertimbangan dalam memilih model / maket sebagai bahan ajar antara lain: memiliki relevansi dengan materi yang akan diajarkan dan memiliki ukuran yang tidak terlalu besar dan bobotnya juga tidak terlalu berat, sehingga dapat dipindahkan oleh satu orang.
3.      Pemilihan Bahan Ajar Audio
a.    Substansi materi yang disajikan dalam radio/kaset harus memiliki relevansi dengan kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta didik.
b.    Program radio yang disajikan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
c.    Direkam terlebih dahulu, agar dapat didengar dengan jelas.
d.   Dilengkapi dengan keterangan tertulis.
e.    Beberapa radio siaran menyediakan program pendidikan.
4.      Pemilihan Bahan Ajar Audio Visual
a.    Substansi materi yang disajikan dalam video atau film harus memiliki relevansi dengan kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta didik.
b.    Alur cerita yang ada merupakan sajian yang menarik dan diturunkan dari standar kompetensi/kompetensi dasar dalam kurikulum.
c.    Ditampilkan dalam satu cerita yang menarik, sehingga peserta didik tertarik untuk mempelajarinya.
d.   Kebenaran materi dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
e.    Durasinya tidak terlalu lama, paling lama 20 menit.
f.     Pilih video/film yang sesuai, misalnya tentang dokumentasi, situasi diskusi, atau suatu percobaan.
5.      Pemilihan Bahan Ajar Multimedia Interaktif
a.    Substansi materi yang disajikan dalam program interaktif harus memiliki relevansi dengan kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta didik.
b.    Program interaktif yang disajikan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
c.    Disajikan dalam bentuk disket atau CD.
d.   Dilengkapi dengan keterangan tertulis.
e.    Penyajiannya menarik.
C.     Langkah-langkah Pemilihan Bahan Ajar
Kriteria pokok pemilihan bahan ajar atau materi pembelajaran adalah standar kompetensi dan kompetensi dasar. Hal ini berarti bahwa materi pembelajaran yang dipilih untuk diajarkan oleh guru di satu pihak dan harus dipelajari siswa di lain pihak hendaknya berisikan materi atau bahan ajar yang benar-benar menunjang tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar.
Adapun langkah-langkah pemilihan bahan ajar dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.   Mengidentifikasi aspek-aspek yang terdapat dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar. Sebelum menentukan materi pembelajaran terlebih dahulu perlu diidentifikasi aspek-aspek standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dipelajari atau dikuasai siswa. Aspek tersebut perlu ditentukan, karena setiap aspek standar kompetensi dan kompetensi dasar memerlukan jenis materi yang berbeda-beda dalam kegiatan pembelajaran.  Setiap aspek standar kompetensi tersebut memerlukan materi pembelajaran atau bahan ajar yang berbeda-beda untuk membantu pencapaiannya.
2.   Identifikasi jenis-jenis materi pembelajaranSejalan dengan berbagai jenis aspek standar kompetensi, materi pembelajaran juga dapat dibedakan menjadi jenis materi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Materi pembelajaran aspek kognitif secara terperinci dapat dibagi menjadi empat jenis, yaitu: fakta, konsep, prinsip dan prosedur
a.       Materi jenis fakta adalah materi  berupa nama-nama objek, nama tempat, nama orang, lambang, peristiwa sejarah, nama bagian atau komponen suatu benda, dan lain sebagainya.
b.      Materi konsep berupa pengertian, definisi, hakekat, inti isi.
c.       Materi jenis prinsip berupa dalil, rumus, postulat adagium, paradigma, teorema.
d.      Materi jenis prosedur berupa langkah-langkah mengerjakan sesuatu secara urut, misalnya langkah-langkah menelpon, cara-cara pembuatan telur asin atau cara-cara pembuatan bel listrik.
Sedangkan materi pembelajaran aspek afektif meliputi: pemberian respon, penerimaan (apresisasi), internalisasi, dan penilaian.
Materi pembelajaran aspek motorik terdiri dari gerakan awal, semi rutin, dan rutin.
3.   Memilih jenis materi yang sesuai dengan standar kompetensi dan  kompetensi dasar. Pilih jenis materi yang sesuai dengan standar kompetensi yang telah ditentukan. Perhatikan pula jumlah atau ruang lingkup yang cukup memadai sehingga mempermudah siswa dalam mencapai standar kompetensi.
Berpijak dari aspek-aspek standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah diidentifikasi, langkah selanjutnya adalah memilih jenis materi yang sesuai dengan aspek-aspek yang terdapat dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar tersebut. Materi yang akan diajarkan  perlu diidentifikasi  apakah termasuk jenis fakta, konsep, prinsip, prosedur, afektif, atau gabungan lebih daripada  satu jenis materi. Dengan mengidentifikasi jenis-jenis materi yang akan diajarkan, maka guru akan mendapatkan kemudahan dalam cara mengajarkannya. Setelah jenis materi pembelajaran teridentifikasi, langkah berikutnya adalah memilih jenis materi tersebut yang sesuai dengan standar kompetensi atau kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa. Identifikasi jenis materi pembelajaran juga penting untuk keperluan mengajarkannya. Sebab, setiap jenis materi pembelajaran memerlukan strategi pembelajaran atau metode, media, dan sistem evaluasi/penilaian  yang berbeda-beda. Misalnya metode mengajarkan materi fakta atau hafalan adalah dengan menggunakan “jembatan keledai”, “jembatan ingatan” (mnemonics), sedangkan metode untuk mengajarkan prosedur adalah “demonstrasi”.
4.   Memilih sumber bahan ajar. Setelah jenias materi ditentukan langkah berikutnya adalah menentukan sumber bahan ajar. Materi pembelajaran atau bahan ajar dapat kita temukan dari berbagai sumber seperti buku pelajaran, majalah, jurnal, koran, internet, media audiovisual, dsb.
D.    Langkah Langkah Penyusunan Bahan Ajar
Ada beberapa prosedur yang harus diikuti dalam penyusunan bahan ajar. Prosedur itu meliputi:
1.   memahami  standar isi dan standar kompetensi lulusan, silabus, program semeter, dan rencana pelaksanaan pembelajaran.
2.   mengidentifikasi jenis materi pembelajaran berdasarkan pemahaman terhadap poin (1).
3.   melakuan pemetaan materi.
4.   menetapkan bentuk penyajian.
5.   menyusun struktur (kerangka) penyajian.
6.   membaca  buku sumber.
7.   mendraf (memburam) bahan ajar dan merevisi (menyunting) bahan ajar.
8.   mengujicobakan bahan ajar dan merevisi dan menulis akhir (finalisasi).
Jika di preteli akan ditemukan sebagai berikut:
Memahami  standar isi berarti memahmai standar kompetensi dan kompetensi dasar. Hal ini telah dilakukan guru ketika menyusun silabus, program semester, dan rencana pelaksanaan pembelajaran. Memahami standar kompetensi lulusan juga telah dilakukan ketika menyusun silabus. Walaupun demikian, ketika penyusunan bahan ajar dilakukan, dokumen-dokumen tersebut perlu perlu dihadirkan dan dibaca kembali. Hal itu akan membantu penyusun bahan ajar dalam mengaplikasikan prinsip relevansi, konsistensi, dan kecukupan. Selain itu, penyusunan bahan ajar akan terpandu ke arah yang jelas, sehingga bahan ajar yang dihasilkan benar-benar berfungsi.
Mengidentifikasi jenis materi dilakukan agar penyusun bahan ajar mengenal tepat jenis-jenis materi yang akan disajikan. Hasil identifikasi itu kemudian dipetakan dan  diorganisasikan sesuai dengan pendekatan yang dipilih (prosedural atau hierarkis). Pemetaan materi dilakukan berdasarkan SK, KD, dan SKL. Tentu saja di dalamnya terdapat indikator pencapaian yang telah dirumuskan pada saat menyusun silabus. Jika ketika menyusun silabus telah terpeta dengan baik, pemetaan tidak diperlukan lagi. Penyusun bahan ajar tinggal mempedomani yang ada pada silbus. Akan tetapi jika belum terpetakan dengan baik, perlu pemetaan ulang setelah penyusunan silabus.
Langkah berikutnya yaitu menetapkan bentuk penyajian. Bentuk penyajian dapat dipilih sesuai dengan kebutuhan. Bentuk-bentuk tersebut adalah seperti buku teks, modul, diktat, lembar informasi, atau bahan ajar sederhana. Masing-masing bentuk penyajian ini dapat dilihat dari berbagai sisi. Di antaranya dapat dilihat dari sisik kekompleksan struktur dan pekerjaannya. Bentuk buku teks tentu lebih kompleks dibandingkan dengan yang lain. Begitu pula halnya modul dengan yang lain. Yang paling kurang kompleksitasnya adalah bahan ajar sederhana. Sesuai dengan namanya ”sederhana”, tentu wujudnya juga sederhana.
Jika bentuk penyajian sudah ditetapkan, penyusun bahan ajar menyusun struktur atau kerangka penyajian. Kerangka-kerangka itu diisi dengan materi yang telah diatetapkan. Kegiatan ini sudah termasuk mendraf (membahasakan, membuat ilustrasi, gambar) bahan ajar. Draf itu kemudian direvisi. Hasil revisi diujicobakan, kemudian direvisi lagi, dan selanjutnya ditulis akhir (finalisasi). Selanjutnya, guru telah dapat menggunakan bahan ajar tersebut untuk membelajarkan siswanya.










TUGAS RESUME


Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Terstruktur dalam Mata Kuliah
Pengembangan Bahan Ajar Bahasa Arab

Oleh :
RIYAN HIDAYAT
NIM: 2213.026
Dosen Pembimbing :
FAJRIYANI ARSYA.MA

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) BUKITTINGGI
FAKULTAS TARBITYAH
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA ARAB
TAHUN AJARAN

2015M/ 1436H

Kamis, 17 Desember 2015

Korelasi Antara Faham Qawaid dengan Maharah Al-Kalam



BAB II
PEMBAHASAN

I.    Ilmu Nahwu
A.  Sejarah dan Pengertian
Nahwu pertama kali digagas oleh Imam Ali bin Abi Thalib untuk memudahkan bagi orang Arab maupun non Arab untuk belajar bahasa Arab. Kemudian gagasan ini dikembangkan oleh Abul Aswad ad Duwali (w. 69 H). selanjutnya dimulai penyusunan pokok-pokok nahwu yang dipelopori oleh Abd al Rohman bin Harmez dan Nasr bin Hasyim. Keduanya murid dari Abu al Aswad ad Duwali.
Pada abad ke- 2 Hijriyah nahwu dikembangkan oleh Al Khalil bin Ahmad al-Farahidi (w.175 H) dengan mematangkan teori nahwu yang disusun Sibawaih (w.180 H) yang nota bene sebagai murid Al Khalil sendiri. Langkah tersebut diikuti oleh Al-Akhfash al-Ausath ( w.211 H) dan Al- Mubarrid ( w. 286 H) dan ulama-ulama lain yang berkembang di negara Bashrah yang digolongkan menjadi al-Nuhat al-Bashariyun. Kemudian lahirlah kitab-kitab nahwu sebagai karya-karya monumental seperti Alfiyah Ibnu Malik, Alfiyah Al Suyuthi dan Alfiyah Ibnu Mu’thi.[1]
Nahwu juga mengalami perkembangan dan kejayaan di daerah Kufah diaantara ulama-ulama yang mengembangkannya adalah Al-Kisai ( w.189 H), Al-Farra’ (w.208 H) Tsa’lab (w. 291 H) dll yang selanjutnya dikenal sebgai al –nuhat al-Kufiyun.Pasca perkembangan di Bashrah dan Kuffah sebagaimana dijelaskan dalam kitab al-Madaris al-Nahwiyah nahwu mengalami kemajuan di Bagdad, Andalus dan Mesir. Pereode ini nahwu sudah mengalami efesiensi dan reformulasi seperti yang disusun oleh Ibn Jinny ( w. 392 H) di Bagdad, Ibn Madha Al-Qurtuby ( w. 592 H) di Andalus, Al-Sayuthi (911 H) di Mesir.[2]
Nahwu menurut bahasa adalah الطریقوالجھة (jalan dan arah). Menurut Al-Râzî (1992:133), nahwu adalah القصدوالطریق . Akan teapi, nahwu menurut istilah ulama klasik adalah terbatas pada pembahasan masalah الإعرابوالبناء (i’râb dan binâ’), yaitu penentuan baris ujung sebuah kata sesuai dengan posisinya dalam kalimat ( الجملة ) yang mereka definisikan seperti berikut ini:
النحوقواعدیعرفبھاأحوالالكلماتالعربیةإعراباوبناء[3]
Suatu hal yang tidak dapat dipungkiri ialah perkembangan baru mengenai pengertian baru tentang ilmu nahwu ini tetap mempertahankan urgensi i’rab. Alasannya ialah i’rab merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam pembentukan kalimat bahasa Arab, di mana tanpa i’rab, sebuah kalimat bahasa Arab tidak akan sempurna, ciri khas ke-Arabannya akan hilang bila i’rab-nya tidak sempurna
B.     Tujuan Pengajaran Ilmu Nahwu
Pelajaran ilmu nahwu adalah bukan sasaran yang menjadi tujuan pembelajaran, tapi ilmu nahwu itu, adalah salah satu sarana untuk membantu kita berbicara dan menulis dengan benar serta meluruskan dan menjaga lidah kita dari kesalahan, juga membantu dalam memaparkan ajaran dengan cermat, mahir dan lancar. Beberapa tujuan mengajarkan ilmu nahwu adalah:
• menjaga dan menghindarkan lisan serta tulisan dari kesalahan berbahasa, disamping menciptakan kebiasaan berbahasa yang fasih.
• membiasakan para pelajar bahasa Arab untuk selalu melakukan pengamatan, berpikir logis dan teratur serta kegunaan lain yang dapat membantu mereka untuk melakukan pengkajian terhadap tata bahasa Arab secara kritis.
• membantu untuk memahami ungkapan-ungkapan bahasa Arab sehingga mempercepat pemahaman terhadap maksud pembicaraan dalam bahasa Arab.
• mengasah otak, mencerahkan perasaan serta mengembangkan kebahasaan .
• memberikan kemampuan untuk menggunakan kaidah bahasa Arab dalam berbagai suasana kebahasaan.[4]
C.     Metode Pengajaran Nahwu
adapun metode-metode pengajarah ilmu nahwu dapat dikelompokkani ke dalam dua metode pokok, yaitu:
1.      Metode القیاسیة (Analogi)
Metode ini terkadang disebut metode kaidah lalu contoh, adalah metode tertua diterapkan dalam pengajaran ilmu nahwu. Pengajaran dititikberatkan pada penyajian kaidah, pembebanan hafalan kaidah itu atas pelajar, kemudian pemberian contoh-contoh untuk memperjelas maksud dari kaidah tersebut.
2.      Metode استقرائیة (Induksi)
Metode ini kadang diberi nama استنباطیة ,استنتاجیة di mana gaya pengajaran dalam metode ini adalah kebalikan dari metode قیاسیة , karena metode ini didasarkan pada penyajian contoh-contoh terlebih dahulu lalu contoh-contoh itu didiskusikan dengan para pelajar
D.    Langkah-Langkah Pengajaran Ilmu Nahwu
• Tahap persiapan
• Tahap penyajian
• Tahap menimbang dan mempertemukan
• Tahap aplikasi
E.     Problematika Pembelajaran Materi Nahwu
Menurut Ibn Madhâ al-Qurthubî (w. 592 H.), ada empat faktor penyebab sulitnya materi nahwu:
1.    Teori Amil.
2.    Teori Illat.
3.    Teori Qiyas.[5]
F.      Kelebihan Dan Kekurangan Pengajaran Qowa’id
Adapun kelebihan pengajaran Qawa’id:
a.    Siswa terbiasa menghafal kaidah-kaidah tata bahasa arab yang sangat diperlukan untuk mampu bercakap-cakap dalam bahasa arab yang benar dan mampu menulis dengan betul.
b.    Melatih mental disiplin dan ulet dalam mempelajari bahasa.
c.    Bagi guru terlalu sulit menerangkan metode ini, karena kemampuan kecakapan tidak diutamakan, dengan kata lain guru asalkan ia menguasai gramatika ( tata bahasa) yang baik, pengajaran dapat dilaksanakan.
Adapun Kekurangan Pengajaran Qowa’id:
a.    Secara didaktis dan psikologi pengajaran ini bertentangan dengan kenyataan, pengetahuan bahasa seseorang tidaklah didahului dengan pengajaran tata bahasa terlebih dahulu. Tapi melalui peniruan ucapan atau percakapan.
b.    Penguasaan tata bahasa tidak dengan sendirinya menguasai percakapan.

II.  Maharah Al-kalam
A.    Pengertian
Keterampilan membaca adalah kemampuan mengucapkan bunyi bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekpresikan pikiran berupa ide, pendapat, keinginan, atau perasaan kepada mitra bicara [6]. Sedangkan menurut Hendri Guntur Taaringan, berbicara merupakan kombinasi faktor-faktor fisik, psikologi, neurologis, sistematik, dan linguistik secara luas, sehingga dapat dianggap sebagai alat manusia yang paling penting bagi control sosial.[7]
Pada hakekatnya maharah al-kalam merupakan kemahiran menggunakan bahasa yang paling rumit, yang dimaksud dengan kemahiran berbicara adalah kemahiran mengutarakan buah pikiran dan perasaan dengan kata-kata dan kalimat yang benar, ditinjau dari sistem gramatikal, tata bunyi, di samping aspek maharah berbahasa lainnya yaitu menyimak, membaca, dan menulis.
Dengan demikian latihan berbicara harus terlebih dahulu di dasari oleh :
1.      Kemampuan mendengarkan
2.      Kemampuan mengucapkan
3.      Penguasaan kosa kata[8]
B.     Aktivitas dan Teknik dalam Pembeljaran Maharah Al-Kalam
Aktivitas latihan prakomunikatif adalah latihan-latihan yang memberikan maksud agar peserta didik dapat mempelajari kemampuan-kemampuan dasar dalam kegiatan maharah al-kalam seperti latihan penerapan pola dialog, kosa kata, kaidah, mimik muka, dan sebagainya. Pada aktivitas ini keterlibatan guru dalam latihan cukup banyak berperan aktif dalam memberikan latihan yang di setiap unsur memerlukan banyak contoh.
Teknik yang dapat diterapkan dalam aktivitas latihan prakomunikatif secara bertahap adalah sebagai berikut:
a.       Al-hifz ala al-hiwar (hapalan dialog)
b.      Al-hiwar bil al-shuwar (dialog melalui gambar)
c.       Al-hiwar al-muwajjah (dialog terpimpin)
d.      Al-tamtsil al-suluki (dramatisasi tindakan)[9]
C.     Pendekatan Pembelajaran Maharatul Kalam
Adapun macam-macam pendekatan, diantaranya adalah :
a.       Pendekatan Humanistik (Humanistic Approach), Langkah pertama untuk merealisasikan tujuan hal itu adalah memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bercakap tentang diri dan perasaannya serta bergantian mengungkapkan berbagai hal mengenai diri mereka. Proses ini bisa memenuhi kebutuhan pembelajar untuk aktualisasi diri.
b.      Pendekatan Teknik (Media-Based Approach), Pendekatan ini bertujuan untuk memberikan cara untuk menjelaskan materi – materi dengan menggunakan gambar-gambar, peta, lukisan, menghadirkan contoh yang nyata, kartun dan lain sebagainya yang sekiranya dapat membantu memahamkan siswa tentang pesan-pesan kata bahasa asing.
c.       Pendekatan Mendengar-Mengucapkan (Aural Oral Approach), Asumsi lain dari pendekatan ini bahwa bahasa adalah kebiasaan. Suatu prilaku akan menjadi kebiasaan apabila diulang berkali-kali. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Arab dengan pendekatan aural oral approach ini menuntut adanya kegiatan pembelajaran bahasa yang dilakukan dengan teknik pengulangan atau repetisi.
d.      Pendekatan Komunikatif (Communicative approach), Pendekatan yang menitikberatkan pengajaran bahasa secara konunikatif artinya pengajaran yang dilandasi oleh teori komunikatif atau fungsi bahasa. Tujuan pengajaran bahasa dalam pendekatan ini adalah untuk mengembangkan kemampuan komunikatif serta prosedur pengajaran ketrampilan berbahasa yang saling memiliki ketergantungan antara bahasa dan komunikasi.[10]
D.    Metode Pembelajaran Maharatul Kalam
Metode-metodeyang telah berkembang dalam pembelajaran, yaitu
a.       Thariqah Mubassyaroh (Metode Langsung/Direct Method), Dalam prakteknya, metode ini selalu mengaitkan antara kata-kata yang diajarkan menggunakan model meniru dan menghapal dengan objek-objek yang ditunjuk oleh kata-kata tersebut, antara suatu kalimat dengan situasi yang diungkapkannya. Dengan demikian metode ini dinamakan metode langsung.
b.      Thariqah Sam’iyah Syafawiyah (Audio Lingual Method), Asumsi-asumsi yang digunakan oleh metode ini adalah Essensi bahasa adalah berbicara. Sedangkan menulis merupakan bagian dari gambaran berbicara. Oleh karena itu perhatian dalam pengajaran bahasa asing hendaklah dicurahkan untuk tercapainya keterampilan berbicara, bukannya keterampilan membaca atau menulis.[11]

III.   Korelasi Antara Ilmu Nahwu Dengan Maharah Al-Kalam
Jika dilihat dari segi metode-metode yang umum di pakai oleh masing-masing cabang ilmu, maka akan diperoleh sebagai berikut:
1.      Metode pengajaran struktur bahasa
Dalam pengajaran  struktur bahasa terdapat beberapa metode, yaitu:
a.    طريقةالموقفيةأوالسياقية (Metode Situasional)
Inilah sebenarnya metode paling menyenangkan bagi murid-murid, optimasi pencapaian hasil yang amat meyakinkan. Karena bahan (pelajaran) judul yang akan diberikan  guru selalu disesuaikan dengan situasi dan kondisi para murid. Artinya, materi pelajaran atau pokok bahasan yang hendak disajikan selalu dipilih yang seang aktual dibicarakan atau dipilih untuk disajikan.
Kemudian, dalam metode ini juga dijelaskan bahwa hiwar antara dua orang itu merupkan suatu hal yang sangat pokok. Karena dengan memperhatikan hiwar, siswa tidak hanya memperhatikan struktur bahasa mereka juga dapat memperhatikan perbedaan-perbedaan dalam bahasa.
b.    طريقةالسّمعيةالشفوية (Metode Dengar Ucap)
Persiapan yang dilakukan untuk menciptakan suasana bahasa secara otomatis. Yaitu: 
1)   Bahasa asing merupakan bahasa yang lebih diutamakan dari pada menggunakan bahasa ibu.
2)   menghafal kaidah-kaidah qawa’id yang akan diajarkan.
3)   Penganalogian kalimat merupakan hal yang utama dibandingkan menganalisi kalimat dalam membuat kalimat baru.
Adapun langkah-langlah dalam metode ini adalah sebagai berikut.
1)        Siswa menyimak kisah sederhana atau percakapan atau contoh kalimat yang diberikan oleh guru.
2)        Siswa mengulangi apa yang diucapkan guru baik secara kelompok maupun individu.
3)        Mengulangi sebagian kalimat-kalimat yang terdapat /yang memuat susunan-susunan bahasa yang dimaksud sehingga siswwa mapu menguasainya.
4)        Siswa menyimak yang kedua kalinya tentang kisah sederhana atau percakapan atau contoh kalimat yang disapaikan oleh guru.
5)        Guru memberikan beberapa soal kepada siswa kemudian siswa mampu mengulangi pertanyaan yang diajukan guru.
6)        Siswa menjawab pertanyaan satu persatu dengan menggunakan kalimat-kalimat yang terdapat dalam kisah sedehana atau percakapan.
7)        Guru menuliskan beberapa kalimat yang terdapat susunan yang diharapkan dengan menggunakan kosa kata yang lain.
8)        Setelah penyampaian materi selesai diadakan evaluasi untuk memantapkan kemampuan mereka dalam menguasai materi yang telah disampaikan.
c.       طريقةالشحالنحوي (Metode Penjelasan Nahwiyah)
Metode ini berlandaskan terhadap teori-teori yang mendalam tentang strktur bahasa yang dapat membantu siswa dalam memperbanyak pengalaman dalam berbahasa.
Metode ini berbeda dengan metode yang sebelumnya. Karena metode ini mengandung upaya-upaya yang sistematis dalam penyampaian kaidah bahasa sehingga guru memiliki pengetahuan lebih banyak tentang  penjelasan-penjelasan kaidah bahasa dan dijelaskan dengan tidak memakai bahasa ibu.
Jadi menurut pemakalah, terdapat hubungan yang erat antara orang yang paham ilmu qawaid dengan orang yang mampu berbicara.



BAB III
PENUTUP
I.                   Kesimpulan
Nahwu pertama kali digagas oleh Imam Ali bin Abi Thalib untuk memudahkan bagi orang Arab maupun non Arab untuk belajar bahasa Arab. Kemudian gagasan ini dikembangkan oleh Abul Aswad ad Duwali
Nahu yaitu penentuan baris ujung sebuah kata sesuai dengan posisinya dalam kalimat
Pada hakekatnya maharah al-kalam merupakan kemahiran menggunakan bahasa yang paling rumit, yang dimaksud dengan kemahiran berbicara adalah kemahiran mengutarakan buah pikiran dan perasaan dengan kata-kata dan kalimat yang benar, ditinjau dari sistem gramatikal, tata bunyi, di samping aspek maharah berbahasa lainnya yaitu menyimak, membaca, dan menulis
Jadi menurut pemakalah, terdapat hubungan yang erat antara orang yang paham ilmu qawaid dengan orang yang mampu berbicara.
II.                Saran
Makalah ini sangat jauh sekali dari sempurna, karena pemakalah masih kurang dalam ilmu dan kekurangan bahan dan pengetahuan untuk menyelesaikan makalah ini, namun dikarenakan tugas yang terstruktur maka pemakalah mencoba sebisa mungkin untuk memberikan yang terbaik.
Kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat diharapkan oleh pemakalah untuk kemajuan pemakalah di massa yang akan datang.




DAFTAR KEPUSTAKAAN
Acaep Hermawan, Metodologi Pengajaran Bahasa Arab (Bandung: Remaja Rosdakary;a, 2001)
Ahmad Afify. Al Mandzumah Al Nahwiyah al- Mansubah li Al Khalil bin Ahmad Al Farahidy.( Cairo: Al Daar Al Manshuriyah Al Baniyah, 2003),
Ahmad Fuat Efendi,  Metodologi Pengajaran Bahasa Arab (Malang : Misykat Malang, 2005)
Ahmad, Muhammad ‘Abd al-Qadîr. 1984. Turûq al-Ta’lîm al-Lughah al-
Arabiyah. Cairo: Maktabah al-Nahd}ah al-Misriyah.
Biek, Hifniy dkk. T.th. Qawâ’id al-Lughah al-‘Arabiyah. Surabaya: Maktabah
al-Hidayah.
Dr. Syauqi Dzaif, Al-Madaris Al- Nahwiyah, (Kairo : Dar al-Ma’arif, 1976 M )cet ke3
Hendri Guntur Taringan, Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa (Bandung: Angkasa, 1994)
Syauqi Dhayf (ed). Kilab al- Radd ala al- Nuhat li Ibn Madha al- Qurtubhi. (Cairo: Daar al Ma’arif, cet ke- 3, tt



[1]Ahmad Afify. Al Mandzumah Al Nahwiyah al- Mansubah li Al Khalil bin Ahmad Al Farahidy.( Cairo: Al Daar Al Manshuriyah Al Baniyah, 2003),
[2] Dr. Syauqi Dzaif, Al-Madaris Al- Nahwiyah, (Kairo : Dar al-Ma’arif, 1976 M )cet ke3
[3] Biek, Hifniy dkk. T.th. Qawâ’id al-Lughah al-‘Arabiyah. Surabaya: Maktabah
al-Hidayah.
[4] Ahmad, Muhammad ‘Abd al-Qadîr. 1984. Turûq al-Ta’lîm al-Lughah al-
Arabiyah. Cairo: Maktabah al-Nahd}ah al-Misriyah.
[5]Syauqi Dhayf (ed). Kilab al- Radd ala al- Nuhat li Ibn Madha al- Qurtubhi. (Cairo: Daar al Ma’arif, cet ke- 3, tt
[6] Acaep Hermawan, Metodologi Pengajaran Bahasa Arab (Bandung: Remaja Rosdakary;a, 2001)
[7] Hendri Guntur Taringan, Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa (Bandung: Angkasa, 1994)
[8] Ahmad Fuat Efendi,  Metodologi Pengajaran Bahasa Arab (Malang : Misykat Malang, 2005)